Abdul Hamid Aly

Rindu ini selalu milikmu Yaa Rosuul

Save Muslim Muslimah

Saling berpesan kepada hal kebenaran dan kesabaran

KH. M. Ali Bahruddin

Pesantren At-taqwa Pasuruan (Keluarga Jam'iyyah Thoriqoh Al-Mu'tabaroh Qodiririyyah wa Naqsyabandiyah).

Nahdlatul Ulama'

Ahlus Sunnah wal Jama'ah An-Nahdliyyah.

Diamond Class

Alhamdulillah ala kulli chaal.

Senin, 26 Februari 2018

Jangan jadikan ibadah sebagai alasan

KH. Ahmad Arif Yahya (Gading Pesantren)

Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani dalam kitab al-Minahus Saniyyah mengisahkan, suatu ketika ada seorang yang mengambil wudhu dari bejana milik perempuan itu. Melihat hal demikian, si perempuan berbisik dalam hati, “Kalau air itu habis, lalu bagaimana aku akan berwudhu untuk menunaikan sembahyang sunnah nanti malam?”

Apa yang tampak secara lahir tak selalu menunjukkan keadaan sebenarnya. Diceritakan, setelah meniggal dunia, keadaan keduanya jauh berbeda. Sang lelaki kaya raya itu mendapat kenikmatan surga, sementara si perempuan papa yang taat beribadah itu justru masuk neraka. Apa pasal?

Lelaki hartawan tersebut menerima kemuliaan lantaran sikap zuhudnya dari gemerlap duniawi. Kekayaannya yang banyak tak lantas membuatnya larut dalam kemewahan, cinta dunia, serta kebakhilan. Apa yang dimilikinya semata untuk kebutuhan hidup, menunjang keadaan untuk mencari ridla Allah.

Pandangan hidup semacam ini tak dimiliki si perempuan. Hidupnya yang serbakekurangan justru menjerumuskan hatinya pada cinta kebendaan. Buktinya, ia tak mampu merelakan orang lain berwudhu dengan airnya, meski dengan alasan untuk beribadah. Ketidakikhlasannya adalah petunjuk bahwa ia miskin bukan karena terlepas dari cinta kebendaan melainkan “dipaksa” oleh keadaan.

Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani menjelaskan dalam kitab yang sama bahwa zuhud adalah meninggalkan kecenderungan hati pada kesenangan duniawi, tapi bukan berarti mengosongkan tangan dari harta sama sekali. Segenap kekayaan dunia direngkuh untuk memenuhi kadar kebutuhan dan memaksimalkan keadaan untuk beribadah kepada-Nya.

Sabtu, 17 Februari 2018

Kota Tarim Hadhromaut


"Tarim Bilangan Masjidnya Bersamaan Jumlah Hari Dalam Setahun"

Tarim yang memiliki diatasnya 360 buah masjid. Jika kita mengujungi Tarim dan berjalan menyusuri lorong – lorong kota ini pasti pandangan kita tidak akan lepas dari bangunan masjid.

Masjid di Tarim tidak semewah masjid di Malaysia. Masjid di Tarim diperbuat dari tanah dengan campuran rumput kering dan batu kerikil yang digunakan sebagai bahan campuran bangunan. Walaupun binaannya yang sederhana, terdapat masjid di kota Tarim yang mencecah usianya 700 tahun.

Masjid-masjid di Tarim tidak pernah sepi dari orang-orang yang berzikir, i'tikaf, solat, membaca Al-Quran, dan majlis ta'lim. Dikatakan azan di kota Tarim akan berkumandang kurang atau lebih 30 minit. Sambung dari satu masjid ke masjid yang lain.

Yang lebih menarik, bila tibanya bulan Ramadhan solat terawih nya akan berterusan dari lepas isyak sehingga waktu qiamullail. Dimulai dengan Dar Mustofa dan diakhiri dengan Masjid Wa'al jam 3.00 pagi.

Yang lebih saya takjub, dalam satu malam adalah hal yang biasa bagi masyarakat Tarim melaksanakan solat Tarawih sebanyak 100 rakaat, kerana mereka solat di lima buah masjid yang masing-masing menunaikan Tarawih dengan 20 rakaat. Malah ada yang lebih dari itu.

Bulan ramadhan itu sememangnya bulan Ibadah bagi mereka.

Antara masjid yang harus dikunjungi bila kita di Tarim :

* Masjid Baalawy (700 tahun)
* Masjid Assegaf (sejak 768H)
* Masjid Al Muhdor
* Masjid Alydrus
* Masjid Imam Al Haddad
* Masjid Syeikh Ali bin Abu Bakar Assakran

Nah, dibawah ni saya saji kan anda dengan dendangan bunyi azan di kota Tarim.

Nak tahu lebih lagi tentang istimewanya bumi Ratu Balqis ni, kenalah datang ziarah dulu. Semoga ini memberi manfaat untuk semua. Semoga kita semua diberi rezeki untuk menziarah Kota Auliya, Kota Para Wali ini 😊

#YaTarimWaAhlaha

Jumat, 01 Desember 2017

JENESYS 2017

LAPORAN PROGRAM JENESYS 2017
PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA’ (PBNU)
ASPEK PENDIDIKAN
Oleh.
Abdul Hamid Aly, M.Pd
Waseda University



A.    Latar Belakang

Program Jenesys (Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths) program ini adalah pertukaran pelajar atau pemuda diantara Negara asia dan jepang yang dilaksanakan oleh pemerintah jepang. Program ini bertujuan untuk membangun kerjasama baik dalam segi ekonomi, social, politik, pendidikan dan teknologi juga mempererat hubungan atar Negara untuk diplomasi yang lebih baik. Penyelenggara yang ditunjuk oleh pemerintah jepang adalah JICE (Japan International Center) sebagai pengelola dan menjadi fasilitator dalam program tahunan jepang ini.
Pada tahun ini, ada beberapa kelompok dengan berbagai tema yang di berangkatkan termasuk perwakilan dari PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) dan PP Muhammadiyah yang berjumlah skitar 20 orang dengan rincian 18 orang peserta dan 2 supervisor. Angkatan pertama dari pertukaran pemuda dan pelajar ini membawa tema tentang “Islamic Religion”. Program ini telah berlangsung selama 10 hari terhitung mulai tanggal 2 Oktober sampai 10 oktober 2017. Dalam kegiatan ini, banyak agenda yang sudah diikuti bersama mulai dari training tentang orientasi kegiatan di jepang, kuliah umum di universitas Waseda, studi wisata di Hakuba Mountain, Tinggal dan hidup berdampingan dengan keluarga dan penduduk asli jepang, school visit, dan workshop sebagai sosialisasi sistem pelaporan pasca kegiatan.
Dari berbagai kegiatan tersebut banyak penemuan dan hasil yang perlu disampaikan sebagai tindak lanjut kegiatan ini agar bisa lebih baik lagi kedepan, juga sebagai landasan untuk menjalin kerjasama kedua belah pihak sebagai tujuan utama program ini dilaksanakan. Banyak aspek yang perlu didiskusikan terkait hasil dari program ini baik dari segi ekonomi, sosial budaya, politik dan teknologi. Namun dalam laporan ini hanya disampikan di aspek pendidikan yang telah di observasi oleh penulis baik dari temuan di lapangan atau hasil diskusi dengan pihak terkait.




B.     Hasil Temuan Lapangan

1.      Pendidikan Karakter Sejak Dini
Pendidikan Karakter di jepang dimulai sejak dini yaitu sejak mereka belajar di jenjang pendidikan dini atau setara PAUD atau Taman Kanak-Kanak di Indonesia. Dari fakta dilapangan para peserta didik sudah di ajarkan untuk menjaga kebersihasn di sekaolahnya dengan cara ikut membersihkan kelas dan lingkungan sekolahnya setiap akan belajar. Para peserta didik diminta ikut berpartisipasi dalam menjaga lingkungan sebagai bentuk cinta lingkungan yang bersih. Disisi lain, penanaman karakter cinta lingkungan juga diterapkan dalam hal lebih suka berjalan kaki daripada naik kendaraan atau transportasi, gerakan ini juga sebagai bentuk cinta lingkungan  untuk meminimalisir polusi udaradan diri sendiri untuk kesehatan dan kebugaran.

2.      Keluarga dan lingkungan sebagai penunjang utama
Disamping Penanaman karakter sejak dini, Jepang juga memaksa kehidupan sosial dalam unsure keluarga dan  masyarakat umum sebagai aktor dalam menciptakan lingkangan yang baik. Dalam kata lain keluarga sebagai kelompok terkecil masyarakat juga ikut andil dalam mendidik karakter baik dalam segi hubungan dengan alam lingkungan atau orang lain.

3.      Sistem Pendidikan
Dari hasil pemaparan pemerintah Hakuba-Mura, Sistem pendidikan di jepang tidak sedikit berbeda dengan Indonesia. Akan tetap ada beberapa hal yang membedakan yaitu, pertama, adanya tiga jenis sekolah seperti Privat, Publik dan Negeri, Kedua, sitem kurikulum yang bersifat kelembagaan dan nasional dalam satu sekolah. Ketiga, Pendidikan Karakter adalah pendidikan yang setiap orang adalah bertanggung jawab dan bertugas untuk melaksanakannya. Dari ketiga aspek perbedaan dari system pendidikan di atas, jepang bisa memperthankan kemajuannya dalam bidang pendidikan disamping pengembangan dalam pengabdian dan penelitian.

C.    Diskusi dan Analisis Hasil Temuan

Dari ketiga temuan dari aspek pendidikan di atas ada beberapa hal yang perlu di analisi sebagai proses diskusi tentang penemuan yang ada dilapangan dengan informasi terkait baikdalam sudut pandang penulis atau penduduk jepang. Setelah itu, hasil temuan di ukur dan dibandingkan dengan sitem dan proses yang ada di Indonesia untuk melihat dan sebagai perbandingan positif agar mendapat nilai positif dari hasil temuan yang ada untuk dua belah pihak. Dari temuan diatasa, ada dua sisi yg bisa di pisahkan yaitu pendidikan karakter dan sistem pendidikan. 

1.      Pendidikan Karakter
Negara Jepang lahir dari Kerajaan kekaisaran Jepang dengan satu suku dan satu pemerintahan dengan menganut system patuh terhadap kaisar. Peraturan dan system yang ada dalam wilayah kekaisaran adalah satu komando berada dalam aturan kerajaan yang wajib dipatuhi. Dengan awal faham seperti ini jepang bisa bergerak secara bersamaan dan saling membantu dalam komando pemerintah. Alhasil, aturan kaisar seperti kepercayaan pada agama Shinto dan segala pemahamannya juga menyebar dan dilaksanakan oleh seluruh orang jepang termasuk dalam hal pendidikan karakter. Semua aspek dan unsure masyarakat di jepang sama-sama bertugas dalam hal membangun karakter bangsa seperti lebih mendahulukan orang lain  dan menghormati satu sama lain. Hal ini juga bisa berdampak pada baiknya system pendidikan karakter di jepang.
Sedangkan di sisi lain, Negara Indonesia lahir dari beragam suku, ras dan budaya. Yang tidak dapat dipungkiri perbedaan aturan dan budaya yang ada akan memicu perbedaan dalam pemahaman dan implementasi dari aturan tersebut. Dengan kata lain, berbeda budaya, suku dan ras bisa mempengaruhi implementasi dari aturan dan system yang dibuat oleh pemerintah. Masalah ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang ada seperti perbedaan dalam hal ritual sosial keagamaan satu sama lain yang tidak bisa di satukan juga dalam hal memberi treatmen khusus pada anak dalam kacamata adat setempat. Namun, banyaknya perbedaan yang ada menuntut masyarakat Indonesia untuk saling menghormati dan toleransi antar satu sama lain dan inilah yang menjadi cirri khas Indonesia di mata dunia dengan basis Negara Bhineka tunggal ika yaitu lahir dari suku, ras, dan budaya yang berbeda namun satu kesatuan dengan tujuan yang sama untuk bangsa dan Negara Indonesia.    
Dalam aspek pendidikan karakter di Indonesia juga tidak luput dari peranan pondok pesantren yang mendidik dan mempertahankan habituasi tentang implementasi antara agama dan sosial yang melahirkan karakter unggul di masyarakat. Peran Pondok pesantren  di Indonesia tidak bisa dilepaskan selain mempertahankan khazanah keislaman juga keilmuan tentang karya para kyai dan ulama’ di masa lampau. Di pesantren inilah salah satu tugas pembentukan karakter ditempa dimana kehidupan mini dalam masyarakat di visualisasikan dalam kehidpan sehari-hari.
 Dari informasi di atas dapat dilihat keunggulan dari kedua Negara yang dari segi diplomatis juga menguntungkan satu sama lain. Dengan adanya pertukaran pelajar dan pemuda, kedepan kedua Negara akan dapat keuntungan yang lebih dalam hal hubungan diplomatis untuk mutualisme pehaman baik tentang keunggulan dalam mengelola dan mempertahankan keamjuan di jepang atau menganalisa toleransi dan keberagaman baik di masyarakat umum atau pesantren di Indonesia.

2.      Sistem Pendidikan
Pada awalnya, banyak isu dan temuan dari orang lain yang mengatakan bahwa system di jepang berbeda dengan di Indonesia. Perbedaan ini cukup signifikan dalam segi kurikulum dan aturan yang ada, pertama, aturan bagi penduduk asli di suatu desa tidak boleh belajar di luar daerah. Kedua, kurikulum per institusi adalah independent tanpa ada campur tangan dari pemerintah pusat, Namun kedua informasi itu sama sekali tidak bisa dibenarkan, setelah adanya interview dengan pemerintah daerah di Hakuba-Mura.
Setelah mendapat informasi yang cukup dari keterangan yang di berikan ada beberapa hal yang perlu disinkronisasikan anatara Jepang dan Indonesia dalam aspek pendidikan. Jika di Jepang ada tiga jenis institusi , Privat, Publik dan Negeri, di Indonesia ada 2 jenis institusi yaitu Swasta dan Negeri juga adanya persamaan dalam hal bagaimana pembuatan atau implementasi dari kurikulum yang di aplikasikan. Persamaan dan perbedaan dari kedua Negara dalam hal sistem pendidikan tidak lepas dari faktor yang muncul dari kedua Negara tersebut.

D.     Kesimpulan dan Saran
1.      Kesimpulan
Setelah mendapat informasi dan temuan juga hasil diskusi di atas, beberapa kesimpulan dapat di bagi menjadi beberapa poin yaitu:
a.       Kedua Negara mempunyai potensi yang sama positif dalam hal pendidikan karakter
b.      Jepang dan Indonesia sama-sama mempunyai peluang dan hal positi dari system pendidikan yang diterapkan
c.       Kedua Negara punya keunggulan untuk segi positif dalam implementasi system pendidikan yang ada sebagai hasil dari faktor yang mempengaruhi aspek pendidikan di Negara tersebut.
2.      Saran
a.       Dalam pendidikan karakter kedua Negara mempunyai masalah dan keunggulan yang bisa menjadi penyelesaian satu sama lain, maka dari itu, perlu adanya pertukaran Kyai dan Praktisi pendidikan ke jepang sebagai langkah khusus dan intens dalam hala pendidikan karakter.

b.      Dalam Sistem pendidikan yang diterapkan perlu adanya kajian lebih lanjut andata kedua Negara dalam hubungan pendidikan untuk sama-sama membantu satu sama lain dalam menyelesaikan masalah yang mungkin timbul melihat beberapa kesamaan yang ada di dua Negara tersebut.







Jumat, 22 September 2017

GUS


Dunia pesantren menyimpan banyak hal untuk diceritakan, termasuk juga tentang Gus (putra kyai) yang sebodoh apapun, senakal apapun, seburuk apapun harus tetap di hormati karena jalur keturunannya, bukan karena murni kebaikannya sendiri. Tidak hanya tambahan gelar 'Gus' saja untuk penghormatan itu, tapi juga dengan bahasa Jawa halus untuk berkomunikasinya, harus merunduk atau bahkan mencium tangannya ketika berjumpa. Kemudian masih harus ada unsur 'kualat' jika melanggar peraturan ini, dan tidak 'barokah' jika kita melakukan diluar tradisi ini.

Gus bukanlah dewa yang terus disembah-sembah, dan bukan juga raja yang terus disanjung-sanjung tanpa tahu pahitnya hidup. Bahkan penghormatan pada Gus bisa mengalahkan penghormatan pada guru atau ustadz kita sendiri yang lebih pintar, sholih, dan jelas perjuangannya untuk kalangan santri. Sedangkan Gus hanya bermodalkan nasab dan mendapatkan amplop mengalir tanpa tahu jasa apa yang telah dilakukannya. Sedangkan para guru masih tetap saja hidup apa adanya bermodalkan barokah.

Kemudian, penambahan gelar Gus masih belum memiliki standar tersendiri, bahkan kecenderungan pemberian gelar secara 'instant' ini semakin membikin sosok Gus yang semaunya sendiri, semakin membikin 'manja' dalam menjalani kehidupan, hal-hal yang seharusnya dengan proses panang didapatkan dengan cara instant, lebih mengandalkan darah birunya dari pada aspek manusianya, dan seringnya tidak tahu apa yang harus dilakukan seorang Gus sebagai keturunan atau sebagai tauladan.

Pada kasus beberapa Pesantren, sang Pengasuh juga masih sering memanjakan putranya untuk menguasai dinasti Pesantren tanpa adanya proses yang tepat. Karena setiap Ayah selalu membanggakan anaknya kepada siapa pun. Namun hal-hal ini sangat tergantung dengan bagaimana sosok Kyai memiliki kebijaksanaan dan penerapan pada kenyataannya.

Tentu kita mengenal sosok-sosok Gus yang benar-benar mumpuni dan sosok Gus yang abal-abal. Alias numpang tenar, kaya, terkenal, dan mapan dari perjuangan para leluhur-leluhur sebelumnya. Sebelumnya pernah penulis kupas tentang 3 jenis Gus; Gus Nasab, Gus Nasib, dan Gus Nasob. Juga ada 5 macam Gus; Gus Jadzab, Gus Kasab, Gus Kalap, Gus Ngalap, dan Gus Balap. Dalam istilah klasifikasi ini tidak ada standar khusus, namun hanya mempermudah untuk memahami saja.

Beberapa kewajiban yang tidak seharusnya, seperti Gus pada Pesantren salaf wajib bisa baca kitab kuning, Gus pada Pesantren Modern wajib memiliki gelar formal, Gus pada Pesantren Qur'an wajib hafal Qur'an, Gus pada Pesantren Dakwah wajib menguasai retorika dan pidato, Gus pada Pesantren Desa Wajib bisa ilmu batin, dan seterusnya. Hal tersebut seakan-akan adalah sebuah keharusan jika menjadi keturunan Kyai Pesantren tersebut.

Sumber = Group WA AIS NUsantara
Oleh = Ahsani F Rahman

AMPLOP ABU ABU

oleh: KH. A. Mustofa Bisri

Kejadian ini mula-mula aku anggap biasa, tapi setelah berulang sampai lima-enam kali, aku jadi kepikiran. Sudah lima-enam kali kejadian itu, jadi sudah cukup alasan untuk tidak menganggapnya sesuatu yang kebetulan.Di bulan-bulan tertentu, sebagai mubalig, aku harus keliling ke daerah-daerah, memenuhi permintaan mengisi pengajian.

Bulan Muharram memberi pengajian dalam rangka memperingati Tahun Baru Hijriah. Bulan Mulud, Rabi’ul Awal, dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Bulan Rajab, dalam rangka Israk Mikraj. Bulan Sya’ban,dalam rangka Haflah Akhir Sanah atau Ruwahan. Bulan Ramadan, dalamrangka Nuzulul Qur’an. Bulan Syawal dalam rangka Halal –bi-Halal.

Belum lagi pengajian-pengajian dalam rangka Walimah Perkawinan, Khitanan, dan lain sebagainya. Capek juga.

Kadang-kadang ingin sekali aku menghentikan kegiatan yang menguras energi ini. Bayangkan, seringkali aku harus menempuh jarak ratusan kilometer dan tidak jarang lokasi pengajian sulit ditempuh dengan kendaraan roda empat, hanya untuk berbicara sekitar satu jam. Kemudian setiap kali pulang larut malam, galibnya menjelang Subuh baru sampai rumah.

Tentu saja tak pernah ada yang menyambut kedatanganku, anak-isteri masih tidur.Kalau pengajian-pengajian itu jelas pengaruhnya pada jamaah sih tidak masalah. Ini tidak.

Pengajian-pengajian yang begitu intens dan begitu tinggi volumenya itu sepertinya hanya masuk kuping kanan dan langsungkeluar lagi dari kuping kiri.Tak membekas.

Buktinya mereka yang bakhil ya tetap bakhil, yang hatinya kejam ya tetap kejam, yang suka berkelahi dengan saudaranya ya masih tetap berkelahi, yang bebal terhadap penderitaan sesama juga tidak kunjung menjadi peka, yang suka menang-menanganya tidak insaf.

Pendek kata, seolah-olah tidak ada korelasi antara pengajian dengan mental mereka yang diberi pengajian. Kadang-kadang aku berpikir, apakah masyarakat kita ini suka pengajian hanya seperti hobi saja. Kelangenan.

Mungkin juga karena mubalig sering mengemukakan besarnya pahala mendatangi pengajian tanpa lebih jauh menjelaskan makna “menghadiri pengajian” itu.

Jadi, orang menghadiri pengajian “sekedar” cari pahala. Yang penting hadirnya, tak perduli hadir terus tidur, melamun, ngobrol sendiri, atau hanya menikmati kelucuan dan “keberanian” mubalignya.

Kok tidak ada ya yang mensurveikejadian ini, misalnya meneliti sejauh mana pengaruh ceramah agama terhadap perilaku masyarakat yang menerima ceramah, pengaruh positifnya apa, negatifnya apa, dan sejauh mana peranannya dalam memperbaiki mental masyarakat? Tapi baiklah.

Biarkan aku bercerita saja tentang penglamanku.

Mula-mula kejadian yang kualami aku anggap biasa. Tapi setelah berulang sampai lima-enam kali, aku jadi kepikiran. Biasanya setiap selesai memberi pengajian selalu saja aku harus melayani beberapa jama’ah yang ingin bersalaman denganku.

Pada saat seperti itu, sehabis memberi pengajian di satu desa, ada seseorang yang memberi salam tempel, bersalaman sambil menyelipkan amplop berisi ke tanganku.

Pertama aku tidak memperhatikan, bahkan aku anggap orang itu salah satu dari panitia. Setelah terjadi lagi di daerah lain yang jauh dari desa pertama, aku mulai memperhatikan wajah orang yang memberi salam temple itu.

Pada kali-kali lain setelah itu, di tempat-tempat yang berbeda dan berjauhan, kulihat memang yang memberi salam tempel orangnya yaitu-itu juga.

Orang yang selalu memakai baju hitam-hitam. Wajahnya yangbersih dan senyumnya yang misterius itu kemudian terus membayang.

Dia selalu hanya mengucapkan salam, tersenyum misterius, dan bersalaman sambil menyelipkan amplop. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Amplopnya selalu sama. Buatan sendiri dan berwarna abu-abu. Jenis warna kertas yang aku kira jarang ada di desa-sesa.Aku tak habis pikir, bagaimana orang itu bisa selalu ada dalam pengajian yang tempatnya berjauhan.

Aku bukanlah mubalig kondang yang setiap tampil di pengajian diberitakan pers. Bagaimana orang itu bisa hadir ketika aku mengisi pengajian di sebuah dusun terpencil di Jawa Timur dan hadir pula di pengajian yang dilaksanakan di sebuah desa di ujung barat Jawa Barat, lalu hadir pula ketika di luar Jawa?

Darimana dia mendapat informasi?

Atau dia selalu membuntutiku?

Tidak mungkin. Musykil sekali.

Setiap kali aku mendapat “amplop”, dari mana atau dari siapa saja, aku tidak pernah membukanya. Langsung aku berikan isteriku.

Aku tak ingin hatiku terpengaruh oleh isinya yang mungkin berbeda-beda satu dengan yang lain, lalu tumbuh penilaian berbeda terhadap pihak –pihak yang memberi amplop.

Apalagi jika kemudian membuatku senang dan selalu mengharap menerima amplop. Na’udzu billah. Namun setelah enam kali berjumpa dengan lelaki berpakaian hitam-hitam itu, tiba-tiba aku ingin sekali mengetahui isi amplop-amplopnya yang diselipkannya di tanganku setiap usai pengajian-pengajian itu.

“Bu, kau masih menyimpan amplop-amplop yang kuberikan kepadamu?” aku bertanya kepada isteriku.

“Sebagian masih” jawab isteriku, “sebagian sudah saya pakai mengamplopi sumbangan-sumbangan yang kita berikan kepada orang.”

“Coba kau bawa kemari semua!"

Isteriku memandangiku agak heran, tapi dia beranjak juga mengambil amplop-amplop bekas yang ia simpan rapi di lemari pakaiannya.

“Banyak juga,” pikirku sambil menerima segepok amplop yang disodorkan isteriku.

Isteriku memandangiku penuh tanda tanya saat aku mengacak-acak amplop-amplop itu seperti mencari sesuatu.

“Ini dia!” kataku, membuat isteriku tambah heran.

Aku menemukan amplop-amplop persegi empat berwarna abu-abu yang kucari, lima buah jumlahnya.

“Lho, yang seperti ini Cuma ini, Bu? Hanya lima?”

“Ya nggak tahu,” sahut isteriku.

“Memangya ada berapa? Setahuku ya cuma itu.

Aku tidak mengusutnya lebih lanjut, mungkin justru aku yang lupa menghitung pertemuanku dengan lelaki misterius itu, lima atau enam kali. Aku memperhatikan dengan cermat lima amplop abu-abu itu.

Ternyata di semua amplop itu terdapat tulisan berhuruf Arab kecil-kecil, singkat-singkat, dan masing-masing ada tertera tanggalnya.

“Ada apa, Pak?” Tanya isteriku tertarik sambil duduk di sampingku.

Aku tak menghiraukan pertanyaannya. Aku mencoba mengurutkan tanggal-tanggaldi lima amplop itu.

Kemudian membaca apa yang tertulisdi masing-masing amplop secara berurutan sesuai tanggalnya. Aku kaget. Semuanya justru nasihat untukku sebagai mubalig yang biasa mensihati orang.

Aku pun menyesal mengapa amplop-amplop itu tidak aku buka pada waktunya.Amplop pertama kubaca:

“ ‘Ud’uu ilaa sabiili Rabbika bilhikmati walmau’izhatil hasanah (Ajaklah orang ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasihat yang baik). Genuk, Semarang, 8 Juli 2001.

”Amplop kedua: “Sebelum Anda menasihati orang banyak, sudahkah Anda menasihati diri Anda sendiri? Cilegon, 11 Juli 2001.

”Amplop ketiga: “Amar makruf dan nahi munkar seharusnya disampaikan dengan cara yang makruf juga. Beji, Tuban, 10 September 2001.

”Amplop keempat: “Yasirruu walaa tu’assiruu! (Berikan yang mudah-mudah dan jangan mempersulit!). Duduk, Gresik, 4 Januari 2002.

Dan amplop kelima: “Ya ayyuhalladziinaaamanu lima taquuluuna malaa taf’aluun! (Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang kau sendiri tidak melakukannya?.Besar sekali kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan sesuatu yang kau sendiri tidak melakukannya!).Batanghari, Lampung Timur, 29 April 2002.

”Aku mencoba mengingat-ingat apa saja yang pernah aku ceramahkan di tempat-tempat di mana aku menerima amplop-amplop itu.

Ternyata aku tidak bisa mengingatnya. Bahkan aku tidak ingat apa saja yang aku bicarakan pada kesempatan-kesempatan lainnya.

Ternyata aku lupa semua yang pernah aku katakan sendiri.

Ah.Siapapun orang itu—atau jangan-jangan malaikat—aku merasa berutang budi. Sebagai mubalig, pekerjaanku hanya memberi nasihat.

Jadi memang jarang sekali aku mendengarkan nasihat.

Aku sungguh bersyukur ada yang menasihatiku dengan cara begitu, sehingga sebagai mubalig, aku tidak perlu kehilangan muka.

Aku jadi mengharap mudah-mudahan bisa bertemu lagi dengan lelaki berpakaian hitam-hitam dan berwajah bersih itu di pengajian-pengajian mendatang.

“Kau masih ingat isi dari amplop-amplop ini?” tanyaku pada isteriku yang masih seperti bingung memperhatikanku.

“Siapa yang tidak ingat isi amplop-amplop itu?
Kalau yang lain mungkin aku lupa. Tapi amplop-amplop warna abu-abu itu aku tidak bisa lupa. Soalnya semua isinya sama, selalu dua ratus ribu rupiah.

Malah semuanya masih saya simpan.”“Masih kau simpan?” kataku kaget campur gembira.

“Jadi semuanya masih utuh? Berarti semuanya ada satu juta rupiah?”

“Ya, masih utuh. Wong aku tidak pernah mengutik-utik uang itu. Rasanya sayang, uangnya masih baru semua, seperti baru dicetak. Aku simpan di bawah pakaian-pakaianku di lemari,” ujar isteriku sambil beranjak ke kamarnya, mau mengambil uang yang disimpannya.

Aku menunggu tak sabar. Tak lama kemudian tiba-tiba,

“Paaak!” Terdengar suara isteriku berteriak histeris.

“Lihat kemari, Pak!”

Aku terburu-buru menghambur menyusulnya ke kamar.

Masya Allah.

Kulihat lemari pakaian isteriku terbuka dan dari dalamnya berhamburan uang-uang baru seratus ribuan, seolah-olah isi lemari itu memang hanya uang saja. Isteriku terpaku dengan mata terbelalak seperti kena sihir, melihat lembaran-lembaran uang yang terus mengucur dari lemarinya.

Dalam takjubku, aku sendiri masih melihat sebuah amplop abu-abu ikut melayang di antara lembaran-lembaran uang itu. Aku segera menangkapnya

Nah, ini dia yang satu lagi. Jadi benar hitunganku, enam kali aku bertemu lelaki itu. Ini amplop keenam.Tanpa mempedulikan istriku yang masih bengong memandangi lembaran-lembaran uang yang berterbangan, aku amati amplop itu seperti mengamati amplop-amplop lainnya tadi.

Dan ternyata di sini juga terdapat tulisan Arab kecil-kecil.

Isinya, “Wamal Hayaatud Dun-ya illa mataa’ul ghurur! (Kehidupan duniawi itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan!). Arafah, 9 Dzulhijjah 1418.

”Tidak seperti amplop-amplop lainnya, yang satu ini juga ada tertera namadan tanda tangan, “Hamba Allah, Khidir!”

Tahun 1418 aku memang naik haji, tapi aku tidak ingat pernah bertemu lelaki berpakaian hitam-hitam dan berwajah jernih itu.

Rasanya di Arafah semua orang berpakaian putih-putih.

SubhanAllah!
_________________________
Disadur dari buku beliau, Kumpulan Cerpen "Lukisan Kaligrafi"-
[22/9 14:30]

Selasa, 29 Agustus 2017

HALAL BUAT KAMI, HARAM BUAT TUAN



Ulama Abu Abdurrahman Abdullah Bin Al-Mubarak Al Hanzhali Al Marwazi ulama terkenal di makkah yang menceritakan riwayat ini.

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur.

Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka :

“Berapa banyak yang datang tahun ini?”
tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.

“Apa?”
ia menangis dalam mimpinya.
“Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.

“Namun ada seseorang,
yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”

“Kok bisa”
“Itu Kehendak Allah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah tukang sol sepatu di kota Damsyiq (damaskus sekarang)”

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun, Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.

Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.

“Ada, di tepi kota”
Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya.

Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,

“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu
“Betul, siapa tuan?”
“Aku Abdullah bin Mubarak”

Said pun terharu, "bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”

Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya ia pun menceritakan perihal mimpinya.

“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”

“Wah saya sendiri tidak tahu!”
“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini.

Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.

“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar :

Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika
laka.

Ya Allah, aku datang karena panggilanMu.
Tiada sekutu bagiMu.
Segala ni’mat dan puji adalah kepunyaanMu dan kekuasaanMu.
Tiada sekutu bagiMu.

Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis

Ya allah aku rindu Mekah.
Ya Allah aku rindu melihat kabah.
Ijinkan aku datang…..
Ijinkan aku datang ya Allah..

Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu.

Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji.

“Saya sudah siap berhaji”
“Tapi anda batal berangkat haji”
“Benar”
“Apa yang terjadi?”
“Istri saya hamil, dan sering ngidam.
Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”
“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?
“ya sayang”
“Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini.
Mintalah sedikit untukku”

"Ustadz, sayapun mencari sumber bau masakan itu.
Ternyata berasal dari gubuk yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.

Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit.

Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya.

Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan :
“tidak boleh tuan”
“Dijual berapapun akan saya beli”
“Makanan itu tidak dijual, tuan” katanya sambil berlinang mata.

Akhirnya saya tanya kenapa?
Sambil menangis, janda itu berkata “daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan” katanya.

Dalam hati saya:
Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim?

Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa?”
“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak.

“Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram".

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang.

Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.
“Ini masakan untuk mu”
Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.
”Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga.

Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”
Ya Allah……… disinilah Hajiku
Ya Allah……… disinilah Mekahku.
Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak
tak bisa menahan air mata.

Kisah ini memberi hikmah, bahwa membantu orang disekitar kita bisa jadi sama nilainya dengan pergi Haji di mata Allah. 

Buat yang akan naik haji ....
atau yang sudah berhaji...

Saudaraku ............Ingat ...

Ada dua yang tidak kekal dalam diri manusia !
Yakni : Masa Muda dan Kekuatan Fisiknya.

Jangan Lupa ... Ada dua juga yang akan bermanfaat bagi semua orang !
Yakni : Budi Pekerti yang luhur serta Jiwa yang ikhlas memaafkan.

Perhatikan .. Ada dua pula yang akan mengangkat derajat kemulian manusia ! Yakni : Rendah hati dan suka meringankan beban hidup orang lain.

Dan ada dua yang akan menolak datangnya bencana ! Yakni : Sedekah serta menjalin hubungan silaturrahim. Semoga kita menjadi orang orang yang dimuliakan Allah swt aamiin.

Sumber = group WA

Senin, 28 Agustus 2017

Do'a Mustajab diatas Waliyulloh

Di Hadramaut (Yaman), setiap orang yang datang menghadap Habib Salim atau habaib sepuh yang alim di Tarim untuk minta didoakan, selalu mendapat pertanyaan yang sama; apakah kamu masih memiliki permata (ibu) di rumahmu?

Jika jawabannya, masih. Maka beliau dengan halus mengatakan, "tahukah kamu, bahwa doa ibu untukmu, lebih mulia dan lebih maqbul daripada doa seorang wali besar sekalipun." Ketika Habib Umar Bin Hafidz dan abangnya Habib Ali Masyhur Bin Hafidz masih bayi dan sering menangis, Ibunda mereka Hubabah Zahra akan memeluk dan membelai anak-anaknya sambil mengusap kepala mereka.
Kepada Habib Ali Masyhur, beliau sering berbisik "mufti, mufti" dan sekarang, Habib Ali Masyhur telah menjadi Mufti Yaman. Kepada Habib Umar sang ibu selalu berdoa "da'i, da'i". Dan kini Habib Umar telah menjelma menjadi Da'i Islam terkenal di zaman ini.

Rasulullah ﷺ bersabda orang tua adalah pintu surga yang paling tengah, maka jangan sia-siakan pintu itu atau jagalah ia. (HR. Tirmidzi). Ingat, ibu adalah pintu surga bagi anak-anaknya, dan ayah adalah jembatan menuju kepadanya. Air susu ibu yg kita minum adalah saripati makanan hasil jerih payah dan keringat ayah yang mencari nafkah untuk keluarga. Karena itu, muliakan lah mereka.

Mau keluar rumah, jangan lupa cium tangan Ibu dan Ayah. (Ingatlah ketika kita masih kecil, kita selalu dipeluk dan diciumnya). Bila kita sudah bekerja atau berkeluarga, atau tak tinggal serumah, Sering-sering lah mengunjunginya.
Bila tidak memungkinkan, teleponlah agar beliau senang dan ridlo atas seluruh jerih payah dan setiap tetesan susu yang telah menjadi darah daging kita. Semoga Allah SWT meridloi kita dan keluarga tercinta. Aamiin.

Sumber= dutaislam.com/ ab
.